Jumat, 01 April 2011

merindukan rasulullah

Setelah hijrah ke Madinah, Nabi saw mendirikan masjid. Masjid nabi waktu itu sebetulnya sebuah lapangan yang dikelilingi dengan tembok. Beralaskan tanah beratapkan langit. DI tengah-tengah masjid Nabi, sekarang ada ruang dengan atap seperti payung yang bisa dibuka. Dahulu, pada zaman Nabi, di tempat itu ada pohon kurma. Nabi biasa berbicara di hadapan jamaah yang memenuhi masjidnya. Ia berdiri di bagian masjid paling depan, bersandar pada satu batang pohon kurma, di sebelah kanan yang sekarang kita kenal sebagai mihrab Nabi.
Ketika jumlah jamaah bertambah, orang2 berdesakan sampai ke ujung masjid. Mereka yang duduk paling jauh dari Nabi, tak bisa lagi melihat wajah beliau. Para sahabat juga melihat Nabi kelelahan kalau beliau berdiri terlalu lama. Mereka lalu mengusulkan untuk membuat mimbar.
Nabi menyetujuinya. Pada Jumat pertama setelah mimbar dibuat, beliau yang mulia keluar dari pintu kamarnya. Beliau berjalan menuju mimbar, dengan  melewati pohon kurma yang biasa jadi sandaran beliau. Ketika beliau menaiki mimbar untuk berkhotbah, tiba-tiba semua orang yang hadir mendengar suara rintihan yang sangat memelas. Suara tangisan yang sangat pilu. Seiring dengan suara tangisan itu, tanah yang menjadi alas masjid pun berguncang seperti dilanda gempa. Tangisan itu makin lama makin keras, dan banyak di antara para sahabat yang tak kuat menahan tangis. Mereka tak tahu dari mana sumber tangisan yang memilukan itu.
Nabi kemudian turun dari mimbarnya. B eliau mendekati pohon kurma dan meletakkan tangan sucinya ke batang pohon, mengusap pelan, lalu memeluknya. Perlahan-lahan suara tangisan mereda, dan suasana menjadi hening. Lalu para sahabat mendengar Nabi berbicara dengan pohon kurma itu.
“Maukah kamu kupindahkan ke kebun kamu semula, berbuah, dan memberikan makanan kepada kaum mukmin, atau kupindahkan kamu ke surga, setiap akarmu minum dari minuman surga, lalu para penghuni surga menikmati buahmu?” tanya Nabi. Pohon kurma memilih yang kedua, karena nabi bersabda, “Af’al insya Allah! Af’al Insya Allah! Af’al Insya Allah!”
Setelah itu, kepada para sahabat, beliau berkata, “Demi Allah yang jiwaku berada dalam genggamanNYA, kalau tidak aku tenangkan dia, dia akan terus merintih sampai hari kiamat karena kerinduannya kepada Rasulullah.”
Al Hasan Al bashri meriwayatkan hadits tersebut dan menasihati kita. “Wahai kaum muslim, pokok kayu merintih karena merindukan Rasulullah. Kalian lebih pantas merindukannya ketimbang pohon kurma tersebut,” katanya.
Imam Syafii menafsirkan tangisan pohon kurma itu sebagai salah satu mukjizat Muhammad saw yang lebih maknawi dibanding mukjizat nabi Isa as yang mampu menghidupkan orang mati. Menghidupkan orang mati berarti mengembalikan orang itu ke posisi semula. Sedang membuat pohon menangis dan merintih karena kerinduan itu berarti ‘menaikkan’derajat sang pohon dari makhluk dua dimensi menjadi makhluk tiga dimensi. Dari makhluk yang tak memiliki kemampuan bicara menjadi makhluk yang bisa berkomunikasi.
Dan sekarang ini, di bulan ini, Sang Nabi saw itu diperingati hari kelahirannya. Kalau sebatang pohon kurma yang terpisah jarak beberapa meter saja dari beliau sampai menangis menahan kerinduan, betapa mungkin kita yang menjadi ummat beliau sama sekali tak memiliki kerinduan itu? Betapa mungkin kita bisa abai pada hari ketika beliau diturunkan Allah ke muka bumi sebagai rahmatan lil alamin? Betapa mungkin kita lalai atas hak beliau SAW sementara kita berharap di akhirat kelak memperoleh syafaatnya?
Allahumma shali ala muhammad wa ali muhammad.
(dikutip dengan sedikit perubahan dari kata pengantar buku Kang Jalal “The Road to Muhammad”).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar